Aloha!

Selamat datang di situs resmi Koas Racun!

Apa yang Anda bayangkan ketika mendengar kata “dokter” atau “mahasiswa fakultas kedokteran”? Mungkin Anda akan membayangkan sosok berjubah putih, bertutur kata manis, tidak pernah berhenti berpikir, dan hidupnya selalu penuh dengan keseriusan. Sekarang, putar semuanya 180 derajat. Itulah Koas Racun: sisi gelap dunia pendidikan kedokteran.

Koas Racun adalah Medical Entertainment Group, yang artinya kami adalah sekelompok orang yang tujuan hidupnya adalah menghibur kalian semua dengan mengangkat tema seputar dunia kedokteran.

Kami menyambut Anda semua di sini dengan hangat, siapapun Anda, baik dokter, koas, siswa SMA, ibu rumah tangga, tukang palak anak-anak TK, juragan DVD bajakan, maupun pelatih panda.

Situs ini masih dalam proses pengembangan, tapi bagi Anda yang betul-betul ngebet ingin mengenal kami lebih jauh, profil kami bisa diakses di Facebook dan Twitter.

Enjoy your stay! 🙂

Advertisements

Apa kalimat yang paling sering diucapkan dokter di RS?

Berita Racun, Agustus 2012

 

Dahulu kala, dalam sebuah acara kuis di televisi yang mengharuskan pesertanya menebak hasil survey, salah satu pertanyaannya berbunyi demikian “Kalimat apa yang diucapkan dokter kepada pasien?” Ketika sang pembawa acara berteriak “survey membuktikan…” tampak jawaban-jawaban mulai tersibak satu persatu. Beberapa jawaban terpopuler adalah “bilang aaa…”, “buka bajunya”, sampai ke “bayarnya di depan, Bu”.

 

Acara kuis ini mengusik peneliti dari Lembaga Pemerhati Ucapan Anda atau yang merasa lebih gaul disebut LEMPER PANDA. “Ucapan anda sangat berpengaruh dalam relasi dengan sesama, hal ini tentunya lebih signifikan dalam bidang pelayanan seperti dunia kedokteran, misalnya,” ujar Alfa, ketua peneliti. Lemper Panda menjelaskan pada Koas Racun dalam presentasi  penelitian dengan judul “Apa kalimat yang paling sering diucapkan dokter di RS?”

 

Teori tentang ucapan di atas menjelaskan mengapa dalam pendidikan kedokteran, mahasiswa tidak hanya diajarkan keterampilan medis, tapi juga keterampilan komunikasi. “Pasien ingin merasa nyaman berbicara dengan dokter. Mereka ingin dokter yang bisa mendengarkan secara efektif,” jelas pria yang mengaku bernama lengkap Alfa Bravo Charlie Delta Echo Foxtrot Golf Hotel India Juliet Kilo Lima Mike November Oscar Papa Quebec Romeo Sierra Tango Uniform Victor Whiskey ini.

 

Menurut Alfa, perkataan dokter di Rumah Sakit berpotensi sangat menentukan persepsi pasien dengan kesehatannya. Pemilihan kalimat seperti “bapak perlu kesabaran ekstra untuk bisa sembuh sempurna” dinilai lebih baik dibandingkan“bapak bakal lama nih sakitnya”. Pasalnya, kalimat ini memberikan efek sugesti yang baik kepada pasien dengan melibatkan kata positif yaitu ‘sabar’ dan ‘sembuh’.

 

Maka dari itu, para peneliti disebar di sepuluh RS pendidikan seluruh Indonesia untuk mengumpulkan data seputar kalimat yang paling sering diucapkan dokter di RS. Tujuannya, menganalisis perkataan yang paling sering diucapkan sekaligus pengaruhnya kepada suasana di lokasi kerja dokter.

 

Setelah penelitian selama 14  hari dengan mengambil latar IGD, para peneliti ini kecewa karena hasil yang mereka dapatkan tampaknya tidak memuaskan. Berikut adalah kalimat yang ternyata paling sering diucapkan oleh dokter maupun dokter muda di RS:

  1. “Duh, pulpen gue mana ya?” Kalimat ini diucapkan sesaat sebelum menulis lembar status pasien atau lembar resep.
  2. “Duh, rame banget sih…” kalimat ini juga kalimat yang sudah bosan didengar para peneliti Lemper Panda.
  3. “Dek koas…!” dan variannya (misalnya, “mas koas…!”)  Kalimat ini diucapkan terutama di IGD, sering diucapkan oleh dokter PPDS atau perawat. Kalimat ini umumnya dilanjutkan dengan bermacam-macam kalimat perintah.

 

Walaupun gagal, penelitian ini membuka wawasan baru bahwa walaupun berasal dari latar berbeda, para dokter memiliki pola ucapan yang sama. Setelah ini, pak Alfa berencana mengulang penelitian dengan modifikasi judul“Apa kalimat yang paling sering diucapkan dokter kepada pasien?”

 

(ndreamon)

IDIH Akan Studi Banding Perihal Logo ‘Ular Aesculapius’

Berita racun, September 2012.

 

IDIH (Ikatan Dokter Intelek dan Humanis), suatu badan binaan DPR RI, merencanakan untuk melaksanakan studi banding ke Yunani, India, Australia, Brazil, dan Antartika untuk menjawab pertanyaan seputar jenis spesies ular di lambang kedokteran, yaitu di tongkat Aesculapius.

 

Seperti yang sudah kita ketahui, lambang medis kerap kali  dihubungkan dengan ular. Lambang kedokteran berupa ular yang melilit tongkat. Lambang apotek menyertakan ular dalam gambar gelasnya.  Bahkan, logo IDIH juga tak lepas dari ular ini.

 

“Kami malu sekali tidak mampu menjawab pertanyaan dari seorang mahasiswa kedokteran yang kritis mengenai spesies ular tersebut. Bagaimana mungkin sebuah lambang yang digunakan ribuan tahun tidak diketahui asal-usul spesies ularnya?” jelas sekjen IDIH dokter Dubia kepada tim Koas Racun.

 

Sekjen IDIH dalam kesempatan yang sama menyebutkan bahwa studi banding ini akan jauh lebih bermanfaat daripada studi banding lambang PMI yang dilakukan pada waktu yang sama oleh DPR. Pasalnya, rencana DPR untuk melakukan studi banding ke Turki dan Denmark yang akan menghabiskan uang negara sebesar 1,3 milyar rupiah ini dianggap tidak mendesak dan tidak jelas.

 

“Studi yang dilakukan IDIH ini lebih terencana. Kami menggunakan metode ilmiah dalam bentuk retrospective cohort study dengan merujuk Yunani sebagai tinjauan pustaka asal logo tersebut. Kami juga memilih India, Australia, dan Brazil sebagai negara dengan varian ular terbesar sebagai kelompok sampel, serta Antartika sebagai kelompok kontrol,” jelas dokter dengan nama lengkap Dubia bin Bona M ini.

 

Sekjen IDIH mengaku bahwa sumber dana untuk studi banding ini berasal dari realokasi dana Jamkesmas sebesar 69%. “Toh pasien sakit yang miskin tidak akan habis-habis juga, baik disunat dananya ataupun tidak. Tapi studi banding yang cuma sekali seumur hidup ini nantinya akan menginspirasi dokter-dokter muda yang jauh lebih berpotensi dan bersedia mengabdi bagi nusa dan bangsa.”

 

Setelah studi banding ini dilaksanakan, IDIH juga berencana melakukan studi banding untuk beberapa topik lain. “Selanjutnya, kami akan meneliti insidensi kesurupan di Dunia Fantasi dibandingkan dengan kesurupan di Universal Studio Singapore dan Disney Land di Jepang. Semua ini demi kemajuan dunia pendidikan kedokteran di tanah air.”

 

(Rodri T)

Mahasiswa Kedokteran akan Dilibatkan Dalam Pembuatan Soal Ujian

Berita Racun, Oktober 2012

Menyusul banyaknya keluhan tentang soal ujian inisiasi dokter, mahasiswa kedokteran akan dilibatkan dalam pembuatan soal. Hal ini diajukan dalam pertemuan nasional Wali Ujian Inisiasi Dokter Indonesia Holistik (WUIDIH) awal bulan Oktober ini.

 

“Mahasiswa mengeluhkan soal Ujian Inisiasi Dokter Indonesia (UIDI) sering di luar topik bahasan yang mereka pelajari di kampus,” ujar dokter Kudi, ketua WUIDIH kepada tim Koas Racun. “Beberapa lain menyatakan tata bahasa dalam soal UIDI sulit dipahami. Atas dasar ini, kami memutuskan untuk mengajak mahasiswa berkontribusi dalam pembuatan soal.”

 

Menurut dokter Kudi, soal buatan mahasiswa akan dimuat dalam ujian inisiasi dokter dengan kuota 10% dari seluruh soal. Dengan demikian, dalam ujian inisiasi selanjutnya kita bisa menemukan 20 soal yang murni merupakan karya mahasiswa, yang sudah diseleksi ketat oleh dewan WUIDIH.

 

Namun, pembuatan soal ini mendapat kecaman keras dari anggota WUIDIH yang lain. Alasannya bukan karena rendahnya kualitas soal yang diajukan mahasiswa, tapi karena pilihan jawaban yang terkesan main-main. Salah seorang anggota WUIDIH menekankan, “kami kaget membaca set soal yang diajukan oleh mahasiswa. Kalau sampai soal ini berhasil masuk ke UIDI, hal ini dikhawatirkan mengganggu konsentrasi peserta yang mengerjakannya.”

 

Anggota ini kemudian memberikan contoh soal buatan mahasiswa yang dipermasalahkan:

 

Soal empati dan komunikasi

Seorang pria berusia 55 tahun dengan penurunan kesadaran mendadak dibawa oleh anak wanitanya yang masih berusia 25 tahun. Wanita ini tampak sangat panik, sehingga ketika dianamnesis dia memberikan informasi yang tidak jelas.

Ketika ditanyakan tentang riwayat penyakit sekarang, wanta ini terus berulang-ulang menjelaskan kalau si Bapak memiliki riwayat sakit gula dan darah tinggi, dengan GDS tertinggi 400 dan tensi tertinggi 220/140.

Yang sebaiknya anda katakan kepada wanita ini adalah…

A. Ecapedeh, jadi gimana yang terjadi sebelum bapak pingsan ya cyins?!

B. Bu, ini udah ke-9 kalinya saya dengar rekor gula darah dan tensi bapak. Sekali lagi dapat piring cantik deh.

C. Jadi, gue harus salto sambil bilang WOW, gitu?

D. *sambil angkat telapak* NGOMONG SAMA TANGAN!

E. Baik, Mbak. Kami sudah jelas tentang riwayat penyakit bapak. Nah, sebelum dibawa ke sini, apa yang sempat dikeluhkan bapak?

 

 

Soal Endokrinologi

Seorang pria minum 2 liter air sekaligus. Kejadian yang akan dialami pria ini adalah…

A. Sekresi ADH berkurang.

B. Kembung.

C. Eneg.

D. Muntah.

E. Menyesal.

 

 

Soal Psikiatri

Seorang pria 17 tahun merasa sedih setelah gagal mendekati wanita untuk ke-10 kalinya. Dia sangat terpukul sampai tidak bisa melaksanakan kegiatan sehari-harinya. Saran yang anda berikan pada pria ini adalah…

A. Cari gebetan lagi.

B. Karaoke lagu galau bersama teman-teman.

C. Menemui psikiater untuk menjalani psikoterapi.

D. Ngaca.

E. Terima nasib.

 

 

Soal forensik

Seorang pria ditembak dengan shotgun di bagian kepala. Penyebab kematian pada pria ini…

A. Kerusakan otak luas disertai mati batang otak.

B. Masih dicari oleh kepolisian.

C. Nasib, umur manusia siapa yang tahu.

D. Kaget berlebihan sehingga jantung copot dari pembuluh darahnya.

E. Lah ditembak shotgun, menurut loe?!

 

Perdebatan tentang hal ini masih akan dikaji lebih dalam lagi. Selagi menunggu keputusan akhir, mahasiswa peserta UIDI diharap tidak terlalu banyak berkhayal dan tetap fokus pada ujian yang akan dihadapi saja.

(ndreamon)

Buku Ajar Koas Racun?! Wedew buku apaan neh aneh bener!

 

Sumpah notes ini serius, bila tidak percaya silakan baca sampai habis. Kami selalu serius.

 

Awal Bulan Oktober ini, Koas Racun bekerja sama dengan penerbit Mediakita merilis “Buku Ajar Koas Racun: Panduan Bertahan Hidup Untuk Koas dan Mahasiswa Kedokteran”. Berhubung banyak banget pertanyaan yang timbul seputar buku ini (baik dari yang belum baca maupun yang sudah baca sekalipun), ada bagusnya kami membuat kumpulan pertanyaan dalam catatan ini.

 

 

Apa sih isi Buku Ajar Koas Racun ini?

Isinya tulisan dong, kalau isinya nasi sama awam suwir dan sayur, itu namanya lontong.

Buku Ajar Koas Racun ini isinya berupa pembahasan mendalam tentang kejadian-kejadian dalam dunia pendidikan kedokteran. Mahasiswa kedokteran dari ujung Timur hingga Barat Indonesia menjalani pengalaman yang lebih kurang sama dalam masa pendidikannya, dan inilah yang kami coba angkat dalam buku ini. Nanti kalian bisa baca tentang ‘Koas dan Jaga Malam”, “Koas dan Ujian”, dan sebagainya.

 

Serius amat, nanti bosan dong bacanya?

Weits, semua ditulis dalam gaya khas Koas Racun yang santai tapi tetap berbobot! Kami memang bertujuan untuk menyajikan dunia yang kompleks dalam tatanan yang sederhana dan menyenangkan. Gaya tulisan kami ini termasuk dalam genre ‘essay humor’.

 

Buat apa sih nulis buku kaya gini lagi? This is just another-story-of-a-doctor-book, kan?

Tujuan penulisan buku ini adalah agar pembaca bisa merefleksikan diri ke pembahasan dalam buku ini. Mungkin kalian bakal senyum, nostalgia, kangen pengen balik ke koas lagi, sampai merasa iba pada penulis. Kami nggak menjamin kalian bakal tertawa, karena itu optional.Tapi, kalau sampai tertawa, anggaplah itu efek samping, bukan efek utama dari buku ini.

 

Isinya apaan aja kalau bukunya dibuka selain tulisan? Ada komik? Ada film? Ada iklan? Ada setannya?

Sebagian besar isi buku ini (hingga tulisan ini diturunkan) masih berupa teks. Rage comic bertema kedokteran sebagai ciri khas kami juga ada, tapi nggak terlalu banyak. Totalnya ada 256 halaman + xii halaman.

Film nggak ada, iklan nggak ada, setan bisa ada bisa nggak tergantung bacanya di mana. Kalau bacanya sambil berdiri di tengah jalan raya biasanya ada setan yang keluar dalam bentuk makian “woi, setan, jangan baca sambil berdiri di tengah jalan!”

 

Wah, harganya berapa? Bisa didapat di mana?

Buku ini bisa didapat di toko buku kesayangan orang kesayangan anda (buat yang couple) dan di toko buku kesayangan anda (buat yang single). Lokasinya bervariasi, ada yang menemukan di bagian ‘buku baru’, ada yang menemukan di bagian ‘novel remaja’ di sebelah teenlit, ada yang menemukan di bagian ‘fiktif’, dan yang paling ekstrim ada yang menemukan di sebelah buku ‘Kiat Sukses Beternak Belut’. Silakan tanyakan ke petugas setempat.

Di toko, Buku Ajar Koas Racun ini dibanderol dengan harga Rp 37.000,-

 

Bisa beli online nggak? Saya ceritanya gaul nih, segala sesuatu pengennya online…

Untuk pembelian online, bisa di beberapa situs tergantung selera anda.

 

Boleh pinjam punya temen nggak?

Hii, apa nggak takut pinjam punya temen? Bisa jadi temen kamu abis pegang pasien infeksius atau abis ngupil masif, terus belum cuci tangan langsung baca buku ini. Kan debris-debrisnya nempel semua tuh per halaman buku. 

Kalau punya sendiri, kan lebih enak bisa dibawa ke mana-mana, bisa digandeng sambil jalan kalau nggak punya pacar, sampai bisa dijadiin bantal tidur.

 

Bakal ada lanjutannya nggak nih?

Kenapa nggak? Hehehe. Namanya buku ajar kan bisa ada jilid 2 dan jilid 3 nya.

 

Buku ini ISBN-nya berapa? Saya kalau beli buku harus ngitung hoki ISBN-nya dulu.

Nggak tau buat apa kalian nanya, tapi nih kode ISBN-nya: 979-794-375-5

 

Itu di buku banyak amat nyebut nama yah, ada si Wisnutama, Dakota, Rosa, sampai ada foto status rekam medis pasien segala lengkap sama nama dan nomor RM-nya. Apa nggak melanggar rahasia kedokteran tuh?

Semua yang tertulis di buku itu fiktif kok. Nama sudah disamarkan, kasus sudah diutak-atik, dan ilustrasi rekam medis itu juga rekayasa. Kami hanya mencoba menyajikannya se-real mungkin. Oke?

 

Apa nama mata uang Inggris?

Nama mata uang Inggris adalah poundsterling

 

Saya udah beli dan udah baca. Jelek nih bukunya, nyesel banget beli! Tau gitu beli hamster aja, lebih lucu, bisa bikin ketawa.

Mohon maaf, kami memang tidak bisa memuaskan semua pihak. Sebagai buku pertama, kami yakin buku ini masih banyak ulkus di sana-sini. Kami menerima semua kritikan demi perbaikan yang lebih baik, kecuali kritikan perihal wajah. Itu sudah dari sananya,

Pada akhirnya, selera humor kembali ke diri masing-masing. Itulah sebabnya genre humor itu sangat luas. Lagipula, ini mengapa kami menuliskan di atas, 

“Tujuan penulisan buku ini adalah agar pembaca bisa merefleksikan diri ke pembahasan dalam buku ini. Kami nggak menjamin kalian bakal tertawa, karena itu optional.Tapi, kalau sampai tertawa, anggaplah itu efek samping, bukan efek utama dari buku ini.”

 

Wah, gara-gara review di atas, saya jadi ragu mau beli buku ini… Abis ada yang bilang jelek sih.

Khusus untuk ini kami nggak akan jawab 🙂 biar review positif yang sudah diberikan oleh TS sekalian yang menjadi jawabannya.

 

Terima kasih untuk semua review positif dan kritik membangun yang sudah diberikan. Semoga buku ini tidak berakhir menjadi bungkus kacang Bang Mamad di RT007/RW010.

Loh, itu bukan pertanyaan dong…?

KODOK BELAGU Sebagai Metode Pembelajaran Mahasiswa Kedokteran

Berita Racun, Oktober 2012.

 

“Kamu seperti hantu

Terus menghantuiku

Kemana pun tubuhku pergi

Kau terus membayangi aku”

 

Bagi koas penggemar lagu, pasti tak asing dengan lirik lagu besutan Dewa tersebut. Lagu berjudul ‘Kosong’ ini termasuk lagu yang berhasil mendulang sukses pada tahun 2002 silam. Namun, tak ada yang menyangka bahwa lirik lagu-lagu dewa berpotensi dijadikan materi pembelajaran untuk mahasiswa fakultas kedokteran. Berikut Koas Racun melaporkan salah satu materi diskusi dari seminar KODOK BELAGU (Koas dan Dokter Belajar Lewat Lagu).

 

“Dari bait pertama saja, kita sudah bisa melihat adanya waham kejar,” tukas dokter Wagiyo Hambali, SpKJ. “Lirik ini bisa dijadikan materi diskusi tentang gejala-gejala skizofrenia bagi koas, terutama yang agak sulit connect dengan istilah medis dan contoh-contoh ilmiah.”

 

Ketika ditanya apa kelebihan memilih menggunakan lagu dibanding contoh-contoh yang sudah umum dipakai (seperti merasa dikejar orang yang ingin membunuh atau dikejar makhluk luar angkasa), dokter yang lebih ngetop dengan nama singkatan dokter WaHam ini menjelaskan perlunya variasi dalam contoh soal.

 

“Saya sudah menggunakan contoh soal ‘merasa dikejar orang yang ingin membunuh pasien’ selama bertahun-tahun, dan jujur saya sudah bosan. Saya harus mencari contoh lain yang lebih gaul, dan saya memilih lagu,” jelasnya.

 

“Lagu Dewa ini termasuk contoh yang baik, karena kita juga bisa menemukan lirik ‘di dalam keramaian aku masih merasa sepi’ yang mengindikasikan gangguan penilaian yang mungkin mengarah ke gejala negatif pada skizofrenia,” jelas dokter yang memiliki hexakosioihexekontahexaphobia alias takut yang berlebih dengan angka 666.

 

Menurutnya, unik sekali untuk menemukan lagu dengan gejala negatif dan gejala positif skizofrenia di dalamnya. “Ditambah lagi dengan lirik yang menggambarkan gejala depersonalisasi lewat ‘tubuhku ada di sini, tetapi tidak jiwaku’, ini sungguh lagu yang baik untuk didiskusikan.”

 

Dokter WaHam menambahkan, dengan banyaknya variasi lagu di Indonesia, tidak tertutup kemungkinan lagu-lagu tersebut akan dipakai rekan-rekannya di bagian lain sebagai bahan diskusi atau bahkan soal ujian.

 

“Rekan saya dari departemen kardiologi sudah mengadakan rapat tentang penggunaan lagu I Heart You dari SM*SH untuk salah satu soal ujian mengenai nyeri dada. Anda tahu, kan? ‘Kenapa hatiku cenat cenut tiap ada kamu’?”

 

Kami masih menunggu kemungkinan hasil diskusi KODOK BELAGU ini akan ambil bagian dalam UIDIH (Ujian Inisiasi Dokter Indonesia Holistik)

 

(ndreamon)

Sinopsis Film ‘Habibie dan Ainun’, Sebuah Film Medis Setengah Matang yang Inspiratif

Habibie dan Ainun, sebuah film yang berkisah tentang presiden ketiga Republik Indonesia ini ditayangkan pada tanggal cantik, 20-12-2012. Setelah menonton film ini, saya jadi tertarik untuk sok-sokan membuat sinopsis film ini. Kenapa beginu (campuran begini dan begitu)? Apakah Koas Racun berencana banting setir ke dunia perfilman? Apakah saya habis mengalami cedera kepala sedang? Apakah saya salah makan?

Tidak. Alasannya sederhana saja, film ini mengandung unsur medis yang cukup kental.

 

Bukan drama korea

Bukan drama korea

 

 

SPOILER ALERT! Jangan dibaca kalau:

1. Anda tidak suka spoiler

2. Anda tidak tahan membaca yang terlalu panjang

3. Anda sedang berenang

 

 

Pertama-tama, saya akan mulai dengan mengangkat kekurangan film ini. Pasalnya, sebagai manusia kita lebih mudah mencari kekurangan daripada kelebihan suatu hal. Iya kan? Ngaku deh!

 

1. Kisah penyakit yang kurang dipertajam

Film ini membuka perjalanan penyakit Habibie muda dengan sangat baik. Dalam film ini, diceritakan Habibie muda tiba-tiba terjatuh dan tampak kesakitan di dada, kemudian didiagnosis mengalami TBC tulang. Diagnosis ini diangkat dengan cerdas ketika Habibie menceritakan bahwa dirinya terserang penyakit TBC, dan orang tua Ainun langsung bertanya “kok nggak batuk?” Hal ini menggambarkan stigma yang masih sangat kuat dalam masyarakat bahwa pasien TBC itu HARUS batuk. Kalau batuknya ada darahnya, malah lebih dramatis lagi. Tapi pertanyaan tersebut langsung dijawab oleh Ainun, yang menjelaskan bahwa Habibie terkena TBC tulang. Pada moment ini juga dibongkar bahwa Ainun sudah menjadi seorang dokter umum.

 

Sayangnya, kecerdasan dalam mengangkat TBC tulang ini segera sirna, karena sepanjang film tidak banyak diceritakan mengenai gejala penyakit tersebut. Yang kita bisa lihat hanya adegan Habibie yang minum obat terus. Dalam suatu adegan flashback, digambarkan Habibie kesakitan sambil memegang daerah ulu hati. Ah, akhirnya ada juga gejala sakitnya.

 

Penonton mungkin akan kebingungan di sini, rasa sakit tersebut disebabkan oleh apa? Bagi yang melihatnya, rasa nyeri tersebut lebih mirip seseorang yang mengalami nyeri dada (angina), sakit maag, atau bahkan seperti orang sedang sakit perut. Bila cuplikan bagian tersebut diperlihatkan pada masyarakat banyak, saya cukup yakin banyak yang mengira Habibie muda sedang mengalami mules-mules akut.

 

Mules? Dispepsia? Dismenorea?

Mules? Dispepsia? Dismenorea?

 

 

Begitu pula dengan adegan bertahun-tahun kemudian, ketika Habibie sedang dirawat di Rumah Sakit dan diceritakan baru saja menjalani operasi bypass. Saya sempat berharap hal ini akan bisa dielaborasi lebih lanjut lagi, tapi  selanjutnya yang ada hanyalah adegan Habibie minum obat. Saking banyaknya adegan minum obat, saya sampai sempat mengira Habibie minum obat untuk TBC tulang selama 38 tahun, karena tidak diceritakan obat apa yang dia minum. Padahal, mungkin yang dikisahkan dalam film ini adalah dia minum obat jantung atau obat darah tinggi.

 

Selain Habibie, perjalanan penyakit Ainun juga diceritakan di sini. Ainun diceritakan mengalami keganasan ovarium (indung telur) dan dikisahkan menjalani berkali-kali operasi. Bagi masyarakat, mungkin adegan-adegan tersebut cukup untuk menunjukkan beratnya perjuangan menjadi sosok Ainun, yang menjadi seorang istri, ibu, ibu negara, sekaligus seorang pasien. Tetapi bagi kalangan medis, saya yakin sebagian besar akan langsung bertanya-tanya, “bagaimana ceritanya tiba-tiba Ainun diperiksakan USG kandungan?”

 

Yak, dalam film ini memang tidak diceritakan apa-apa seputar asal muasal diagnosis Ainun. Tidak ada gangguan menstruasi, tidak ada keluhan pembesaran di daerah perut, hanya ada hasil pemeriksaan yang tiba-tiba menyatakan Ainun mengalami penyakit yang berbahaya. Hal ini sama saja dengan Anda menonton Super Chef di televisi, di mana setelah adegan wawancara dengan para koki adegan yang muncul selanjutnya adalah para juri menilai makanan yang sudah tersedia di meja. Dari mana datangnya makanan tersebut? Pesan antar KFC?

 

Padahal, kalau saja ditambahkan beberapa baris kalimat atau beberapa menit adegan, film ini bisa memiliki unsur edukasi kesehatan yang sangat baik untuk masyarakat luas! Bukan tidak mungkin film ini akan menjadi suatu percontohan bagi industri film Indonesia supaya scriptwriter mau mencoba mengambil kondisi selain amnesia dan kecelakaan mobil untuk diangkat dalam sinetron kita.

 

Serius, kalau semua tokoh sinetron Indonesia yang pernah mengalami amnesia atau kecelakaan mobil dikumpulkan, kita bisa membentuk Idol Group yang jumlah anggotanya sepuluh kali lipat jumlah member AKB48.

 

Dan... inilah AKB48

Dan… inilah AKB48

 

 

 

2. Adegan medis janggal

Sampai saat ini, film Indonesia masih suka menampilkan adegan-adegan medis yang tergolong janggal. Saya bahkan curiga Lembaga Sensor Film memiliki divisi ‘wajib-ada-adegan-medis-janggal’. Jadi, kalau ada film yang adegan medisnya benar semua maka film ini akan ditolak oleh LSF. Si produser diminta untuk menambahkan beberapa menit adegan medis janggal, baru film tersebut dinyatakan lulus sensor dan boleh tayang.

 

Mungkin karena hal ini juga, saya jadi kurang menikmati film ini. Adegan saat Ainun berada dalam kondisi kritis yang harusnya bernuansa haru, malah saya buat menjadi sebuah permainan ‘temukan-yang-aneh’. Contohnya, ketika Habibie mengunjungi Ainun di ICU, dengan selang nafas (endotracheal tube) terpasang di mulutnya. Begitu adegan ini mulai, kita akan langsung menyaksikan pemandangan yang amat pedih: seorang suami melihat istrinya yang selama ini tegar, kini terbaring lemas tidak berdaya karena penyakit kanker ovarium yang dialaminya. Untuk bernafas agar bisa bertahan hidup saja, orang yang begitu disayanginya ini harus dibantu dengan selang nafas dan mesin ventilator. Sayangnya, bagi orang yang terbiasa ada di rumah sakit adegan pilu ini akan segera hilang karena Ainun ternyata masih sadar. Compos mentis! Lah, kalau gitu kenapa dipasang selang nafas dan ventilator?

 

Lebih lanjut lagi, adegan puncak yang harusnya membuat seisi ruang pertunjukkan menitikkan air mata ternyata memiliki beberapa kejanggalan lain, antara lain mesin ventilator yang tidak bergerak sama sekali dan monitor ICU yang menunjukkan frekuensi nafas ‘0’. Saya sempat bingung kenapa dua orang yang duduk di sebelah saya tiba-tiba menangis. Apakah kejanggalan medis itu begitu memprihatinkan sampai mereka menangis? Kemudian, saya baru sadar kalau ternyata adegan tersebut memang benar-benar sedih. Sayang sekali saya melewatkannya karena terlalu sibuk memainkan ‘temukan-yang-aneh’

 

Jangan nangis... jangan nangis... oke, jangan keliatan kalau gue nangis...

Jangan nangis… jangan nangis… oke, jangan keliatan kalau gue nangis…

 

 

 

3. Adegan salah dokter

Ini adalah salah satu adegan yang paling fatal, menurut saya. Dikisahkan, Habibie sedang melihat hasil USG daerah perut dengan seorang dokter dan kemudian beliau menanyakan apa arti dari hasil USG tersebut. Jawaban dokter ini sungguh mengejutkan: “Saya kurang tahu, saya kurang menguasainya karena saya sendiri seorang ahli MRI”, kira-kira bernada demikian.

 

Di mana letak kesalahannya? Salahnya adalah ‘salah pilih dokter’! Dalam suatu kasus kandungan (di mana saya cukup yakin dokter spesialis obsgyn yang melakukan pemeriksaan USG tersebut), kenapa keluarga pasien jadi berakhir konsultasi dengan seorang dokter spesialis radiologi yang menekankan ‘saya sendiri seorang ahli MRI’?

 

Hal ini menjadi begitu bermakna karena adegan selanjutnya yang menggambarkan Habibie segera mempersiapkan keberangkatan istrinya dan keluarganya ke Jerman. Tujuannya? Pemeriksaan dan tatalaksana lebih lanjut lagi. Saya mengerti bahwa dikisahkan Habibie sudah lama berada di Jerman dan beliau memiliki nama yang cukup tersohor di sana (dan mungkin kenal baik dengan beberapa dokter), sehingga mungkin saja dia merasa lebih nyaman untuk membawa istrinya ke sana.

 

Sayang sekali, jalan cerita yang saya tangkap adalah “dokter Indonesia bodoh sekali, tidak bisa menjelaskan kondisi Ainun sehingga Habibie memilih untuk membawanya ke luar negeri saja”

 

 

 

 

Kurang adil rasanya kalau kita hanya membahas kekurangan film ini tanpa mengangkat kekuatan dari film ini. Sayangnya, saya kurang ahli dalam memuji, tapi saya akan mencoba sebaik-baiknya.

 

1. Penokohan dalam tokoh ini luar biasa sekali. Tiap tokoh digambarkan memiliki karakter yang khas. Ada Habibie yang rajin dan keras kepala, Ainun yang sangat peduli terhadap suami dan anak-anaknya, sampai tokoh antagonis figuran Hadi yang sangat baik memerankan sosok licik lagi intimidatif. Yang menarik juga, kita dalam melihat perkembangan karakter tokoh ini karena film ini memang menunjukkan rentang waktu yang cukup panjang, sekitar 38 tahun.

 

Mula-mula, kita dapat menyaksikan Habibie muda yang digambarkan begitu cerdas, humoris, serta memiliki kepercayaan diri yang luar biasa walaupun sering dipandang rendah karena berasal dari Indonesia, suatu negara yang belum terkenal saat itu. Seiring bertambahnya usia, Habibie mulai mengurangi sisi humorisnya dan mulai menunjukkan sisi bijaksananya.

 

Dalam hitungan menit, kita akan dibawa menyaksikan Habibie dewasa sebagai sosok pria bijaksana yang cinta negara, tapi juga gomba- eh, romantis. Dinamika karakter ini memuncak ketika beliau menghadapi situasi Ainun yang sakit berat, di mana kita melihat sosok Habibie yang pecah dan rapuh. Secara ajaib, sisi rasional dan bijaksananya seolah hilang.

 

Bisa diblang, penokohan adalah salah satu unsur paling menjual dari film ini. Saya pun harus mengakui bahwa Reza Rahadian mampu memerankan sosok Habibie dengan sangat luar biasa. Saya punya firasat gaya berbicara seperti Habibie akan ngetrend dalam beberapa tahun ke depan. Setidaknya, logat Eropanya jauh lebih keren daripada ‘ciyus miapah’ yang lebih mirip ucapan seorang remaja yang gagal tumbuh kembangnya.

 

Kalau Anda pengguna 'ciyus miapah', saya akan langsung berasumsi Anda nampak seperti ini

Kalau Anda pengguna ‘ciyus miapah’, saya akan langsung berasumsi Anda nampak seperti ini

 

 

2. Selain penokohan, latar tempat dan latar waktu dalam film ini juga baik. Lokasi yang berpindah-pindah antara Jerman dan Indonesia membuat kita seolah terbawa mengunjungi tempat tersebut. Latar tempat juga didukung latar waktu yang luar biasa, pasalnya film ini mengambil masa mulai dari tahun 1950-1960an, dan kita diajak menjadi saksi mata seperti apa kondisi negara kita lima puluh tahun silam. Padahal saya juga tidak tahu apakah benar lima puluh tahun lalu kondisi Bandung seperti itu.

 

3. Saya juga menikmati jalan cerita film ini. Film ini merupakan gabungan unsur humor, romantis, keluarga, nasionalisme, politik, perjuangan, dan tentunya kesehatan. Semua unsur mendapat porsi yang sama rata dan ditampilkan dengan cukup baik, kecuali mungkin untuk unsur medis yang sudah dijabarkan di atas. Film ini mampu membuat seisi ruang tertawa lepas selama sepertiga awal film, terdiam selama sepertiga tengah, dan mata berkaca-kaca pada sepertiga akhir.

 

Sebagai tambahan, adegan yang paling berkesan buat saya adalah ketika Habibie memutuskan pulang berjalan kaki dari stasiun bus karena tidak punya uang. Rasanya sangat pilu melihat seorang sosok jenius berjalan di tengah hujan salju dengan sepatu butut yang berlubang. Sesampainya di rumah, istrinya melihat telapak kaki Habibie, pahlawannya, yang terluka akibat perjalanan tersebut. Efek tamparan yang timbul luar biasa, seolah-olah seperti saya habis ditampar orang yang duduk di depan karena kaki saya terus menendang-nendang kursinya dari belakang.

 

Dan film ini menampilkan N250, pesawat rancangan BJ Habibie. Selagi anda sibuk merakit Gundam, beliau merakit pesawat.

Dan film ini menampilkan N250, pesawat rancangan BJ Habibie. Selagi anda sibuk merakit Gundam, beliau merakit pesawat.

 

 

Kata-kata akhir:

Sebuah film luar biasa yang wajib ditonton. Sebagai seorang penonton, saya memberi film ini nilai 8,5 dari 10. Kalau di kampus saya dulu, itu sudah dapat nilai A. Sayangnya, untuk unsur medisnya saya hanya memberi nilai 5 dari 10. Artinya, kalau film ini koas dan saya jadi pengujinya, film ini harus remedial, harus diperbaiki adegan-adegan medisnya.

 

Saya melebih-lebihkan adegan medis dalam film ini bukan karena saya adalah seorang yang berasal dari bidang medis. Film ini sendiri dari awal sudah memutuskan akan mengandung unsur medis yang cukup kental. Secara ringkas, film ini diawali dengan Habibie yang sakit, dilanjutkan dengan Habibie, Ainun, dan anaknya yang sakit bergantian, dan diakhiri dengan Ainun yang kehilangan nyawanya akibat sakit keras.

 

Untuk sebuah film yang berani membawa unsur medis yang sedemikian rumitnya, ada baiknya produser Dhamoo Punjabi dan Manoj Punjabi mematangkan konsep medis tersebut semaksimal mungkin. Kalau saja adegan-adegan medis dalam film ini dikonsultasikan dengan seorang dokter, maka saya yakin film Habibie dan Ainun akan menjadi film yang nyaris sempurna bagi semua kalangan.

 

(ndreamon)

 

Sosok inspiratif.

Sosok inspiratif.

Sinopsis Film ‘5 cm’, Sebuah Kisah yang Aplikatif Untuk Calon Dokter

Untuk sejawat (terutama yang koas atau masih mahasiswa) yang sering jalan-jalan ke mall, saya punya dua pertanyaan buat Anda:

1. Kok masih sempet aja jalan-jalan ke mall?

2. Kalau lewat XXI atau Blitz, pernah lihat poster beberapa orang mendaki gunung sambil berpegangan pada tali?

Yak, poster yang kalian lihat itu adalah salah satu film karya anak negeri yang sedang booming saat ini, judulnya ‘5 cm‘.

Kalau menurut anda aksi mereka mendaki gunung itu keren, coba pikirkan perjuangan cameraman-nya. Dia juga mendaki gunung... sambil membawa kamera segede bazooka.

Kalau menurut anda aksi mereka mendaki gunung itu keren, coba pikirkan perjuangan cameraman-nya. Dia juga mendaki gunung… sambil membawa kamera segede bazooka.

Pertama-tama, film ini tidak mengisahkan tentang koas stase obsgyn yang sedang melakukan pemeriksaan VT terhadap pasien kebidanan, dan melaporkan hasilnya kepada dokter residen “pembukaan serviks sudah 5 cm, Dok!” Film ini juga tidak menceritakan tentang tebal textbook kedokteran milik anda dalam satuan centimeter.

Film ini mengisahkan tentang lima orang pemuda yang bersahabat baik dan sepanjang film kita akan dibawa menelusuri kisah masing-masing orang, sampai akhirnya berakhir di Mahameru (puncak Gunung Semeru) seperti yang kita lihat di posternya.

Bagi anda yang kurang cocok dengan film bergenre petualangan, tenang saja. Pasalnya, film ini tidak sepenuhnya bercerita tentang kegiatan naik gunung. Saya sendiri adalah seorang dengan ilmu pendakian gunung yang setara amuba, tetapi bisa menikmati film ini. Jangankan naik gunung, naik ke bangsal lantai 3 lewat tangga saja sudah mengalami dyspnea on exertion.

Kalaupun menceritakan tentang buku ini, judul filmnya pasti "Lebih dari 5 cm"

Kalaupun menceritakan tentang buku ini, judul filmnya pasti “Lebih dari 5 cm”

Seperti biasa, saya akan memberi peringatan buat Anda sekalian. Bagian di bawah ini mengandung banyak sekali spoiler!

Jadi, jangan baca bagian di bawah bila:

1. Anda mengalami shock anafilaksis bila diberi spoiler

2. Anda tidak tahan membaca bahasan yang tangensial dan inkoheren

3. Anda sedang mendaki gunung

Aturan pertama: setiap film wajib ada adegan medisnya!

Seperti sebelumnya, saya akan membahas beberapa adegan medis yang muncul pada film ini. Secara keseluruhan, saya cukup puas dengan adegan medis yang ada dalam film ini. Menurut saya, adegan visual medis dalam film ini memiliki tingkat akurasi yang sudah cukup baik dan layak diacungi jempol!

Berikut beberapa adegan medis yang bisa dibahas:

1. Adegan hipotermia (penurunan suhu tubuh)

Hal pertama yang harus diketahui adalah hipotermia cukup sering terjadi pada pendaki gunung. Sebelum mendaki, tokoh Genta mengingatkan untuk ‘terus bergerak’, karena pergerakan memang perlu untuk mengurangi risiko hipotermia. Sekarang Anda tahu mengapa kalau anda sedang stase di ruang operasi dan hanya bertugas ‘observasi’ saja, anda akan merasa kedinginan dan mengantuk.

Cerita berlanjut. Karena udara dingin, salah satu tokoh tetap harus terkena kondisi ini. Adegan ini digambarkan dramatis dengan keluhan ‘seperti ditusuk-tusuk’ disertai nada bicara yang sudah tidak terlalu jelas. Mereka memutuskan berpelukan secara kelompok. Dari sumber yang saya baca (cari bagianin life threatening situations), berpelukan dalam kelompok memang salah satu cara yang dianjurkan untuk menghangatkan korban hipotermia.

Cara yang paling ideal untuk menangani kasus hipotermia di gunung adalah masuk ke dalam tenda, dan menyusup dalam sleeping bag bersama orang lain yang tidak mengalami hipotermia. Sayangnya, mereka meninggalkan semua barang sebelum mulai mendaki bagian tersulit dari Mahameru. Saya pribadi agak sedikit bersyukur karena adegan ‘berbagi sleeping bag‘ ini tidak terjadi, karena bisa mengingatkan saya pada adegan film Twilight Saga: Eclipse.

Terlambat, saya sudah keburu ingat.

Terlambat, saya sudah keburu ingat.

2. Adegan tinitus akibat trauma kepala

Tokoh yang paling unyu (jujur nih) di film ini mengalami cedera kepala, daerah telinga kiri. Setelah itu, dia digambarkan mengalami telinga berdenging disertai penurunan pendengaran sementara. Keadaan ini paling sesuai dengan kondisi yang disebut trauma-associated tinnitus. Adegan ini digambarkan dengan luar biasa di mana kita dihadapkan pada sudut pandang korban trauma dan mengalami sendiri seperti apa kondisi tinnitus yang dialami.

Satu kata: luar biasa. Eh, itu dua kata ya? Biarin deh.

Sekedar informasi: pada tinnitus akibat trauma pada daerah telinga, sepertiganya akan hilang sendiri dalam waktu rata-rata tiga bulan.

Adegan ini membuat saya sempat benci pada produsernya. Kenapa gadis se-unyu itu harus terbentur kepalanya?!

Adegan ini membuat saya sempat benci pada produsernya. Kenapa gadis se-unyu itu harus terbentur kepalanya?!

3. Adegan CPR (Cardiopulmonary resuscitation)

Ini salah satu adegan paling seru untuk dibahas dalam film ini. Singkat kata, salah seorang tokoh bernama Genta melakukan CPR pada temannya bernama Ian yang tidak sadar diri setelah mengalami trauma kepala. Beberapa hal yang dilakukan oleh Genta cukup akurat, yang diawali dengan mencoba membangunkan korban terlebih dahulu. Setelah itu, dia memeriksa denyut jantung dan nafas Ian.

Hebatnya, dalam adegan ini dia melakukan palpasi pada area arteri karotis di leher! Hal ini cukup mengejutkan saya, karena berkali-kali saya melihat adegan film/sinetron di mana seorang dokter memeriksa denyut nadi pada daerah arteri radialis di pergelangan tangan, menggunakan jempol, dan setelah itu melakukan adegan geleng-geleng dua kali dan menyatakan bahwa pasien sudah meninggal. Untuk itu, mari kita berikan satu point untuk Genta di sini.

Sayangnya, ada sedikit adegan janggal. Sesaat sebelum memeriksa denyut arteri karotis di leher, dia sempat memeriksa denyut jantung dengan cara menempelkan telinganya di daerah dada korban. Tapi, hal ini diperbaiki dengan adanya adegan pemeriksaan aliran nafas dengan look, feel, listen walau tanpa tindakan head tilt atau chin lift. Secara keseluruhan, bolehlah kita berikan satu point tambahan juga di sini.

"Pada korban ada dua masalah. Pertama, tidak terdeteksi nafas spontan. Kedua, kakinya kayaknya hilang."

“Pada korban ada dua masalah. Pertama, tidak terdeteksi nafas spontan. Kedua, kakinya kayaknya hilang.”

Nah, setelah mencoba mencari denyut arteri karotis sebentar, Genta tampaknya tidak berhasil menemukan denyut jantung definitif, sehingga memutuskan melakukan CPR alias kompresi dada. Adegan selama beberapa detik ini bisa kita bahas dalam setidaknya dua aspek.

Pertama, cara melakukan kompresi. Tokoh Genta melakukan kompresi dada dengan teknik yang secara keseluruhan baik. Dia mendorong dengan bahunya (sehingga berat badannya digunakan untuk membantu kompresi dada), bukan hanya dengan gerakan siku saja, apalagi gerakan CPR ala ngulek sambel. Selain itu, walau tampaknya masih terlalu lambat, tapi kecepatan kompresi dada masih berkisar antara 90-100x per menit. Sebagai informasi, teknik CPR yang baik adalah dengan kecepatan 100x per menit dan kedalaman kompresi 5 cm. Satu point untuk Genta.

Kedua, compression:ventilation ratio. Bahasa manusianya, “gue harus pijit-pijit dadanya berapa kali? Terus abis itu gue harus tiup mulutnya berapa kali?” Adegan dalam film ini menerapkan sistem kompresi dada 5 kali dilanjutkan dengan bantuan pernafasan 1 kali. Apakah tepat? Menurut guideline American Heart Association, jumlah kompresi dan bantuan nafas yang dianjurkan adalah 30 kali kompresi dada, diselingi dengan 2 kali bantuan nafas.

Kalau kita lihat sejarah teknik CPR, guideline ini memang sempat mengalami perubahan (dan mungkin akan berubah lagi beberapa tahun mendatang). Teknik yang dilakukan Genta dalam film ini (kompresi:ventilasi sebanyak 5:1) sempat dianjurkan sebelum tahun 2002 untuk CPR pada anak sebelum akhirnya mengalami perubahan lagi menjadi 15:2. Jadi, dalam film ini Genta menggunakan teknik CPR yang sudah tidak dipakai sejak 10 tahun lalu. Genta tidak mendapat poin di bagian ini.

Mengenai apakah upaya CPRnya sukses atau tidak, silahkan nonton sendiri.

Kesimpulan saya untuk bagian CPR ini adalah kurang akurat tapi sudah baik. Mengenai kurangnya ketepatan memang sudah dibahas di atas, tapi menurut saya adegan tersebut sudah baik. Kenapa beginu? Ingat: Genta BUKAN seorang dokter atau paramedis terlatih! Dia seorang ahli ekonomi yang sangat sibuk. Kemungkinan besar dia mempelajari skill Basic Life Support dari pelatihan atau bahkan hanya dari browsing internet atau membaca buku!

Sebagai seorang awam, sangat mungkin dia kesulitan mencari keberadaan denyut nadi karotis, apalagi mengingat guideline resusitasi. Itulah mengapa saya mengatakan adegan ini sudah baik dan sangat masuk akal. Justru kalau tiba-tiba dia bisa melakukan CPR dengan rasio kompresi:ventilasi 30:2 kemudian mengeluarkan defibrillator dan menggunakannya, saya malah bingung. Atas dasar itu, kita berikan seribu point pada aksi CPR Genta.

"Minggir!!! Serahkan pada saya yang sudah ahli, adegan ini sudah sering saya lihat di TV!"

“Minggir!!! Serahkan pada saya yang sudah ahli, adegan ini sudah sering saya lihat di TV!”

Intinya, Genta itu bukan dari kalangan medis. Satu-satunya hal yang bisa dihubungkan antara ‘Genta’ dengan ‘medis’ adalah namanya mirip antibiotik golongan aminoglikosida, Gentamisin.

Final words

Skor medis: 8,5/10

Skor film: 9/10

Secara keseluruhan, film ini memuaskan. Unsur komedi, persahabatan, nasionalis, semua diramu jadi satu. Bagian-bagian terakhir dari film ini sangat berkesan, terutama bagian ketika para pendaki menancapkan Sang Merah Putih di atas puncak Mahameru dan menyatakan kecintaannya pada Tanah Air Indonesia. Sisi aplikatif adegan ini bagi kita yang berada di dunia medis timbul dalam bentuk sebuah pertanyaan, “Apakah Anda cinta Indonesia?”

Seperti yang disinggung dalam adegan film ini, kita mungkin kadang dibuat gemas dengan masyarakat atau dengan pemerintahannya. Tapi, cobalah tanyakan diri Anda lebih dalam lagi, apakah Anda mencintai Tanah Air tempat Anda dilahirkan, negeri yang Anda injak tanahnya dan Anda minum airnya? Jika jawabannya adalah ‘ya’, maka Anda beruntung. Sebagai seorang yang berkarya dalam dunia medis, Anda memiliki banyak sekali peluang untuk berbakti bagi negeri ini.

Bagian lain yang menyentuh adalah prinsip ‘5 cm’ dalam mengejar mimpi-mimpi Anda. Halo, Anda yang di FK, punya mimpi jadi dokter kan? Tonton film ini, aplikasikan prinsip ‘5 cm’ dalam perjuangan Anda.

Sekedar informasi, kucing ini lebih ahli melakukan CPR daripada adegan yang dilakukan dokter dalam sinetron kita

Sekedar informasi, kucing ini lebih ahli melakukan CPR daripada adegan yang dilakukan dokter dalam sinetron kita

Jadikan tahun 2013 sebagai tahun membangun bangsa. Selamat mengejar mimpi.

(ndreamon)