Sinopsis Film ‘5 cm’, Sebuah Kisah yang Aplikatif Untuk Calon Dokter

Untuk sejawat (terutama yang koas atau masih mahasiswa) yang sering jalan-jalan ke mall, saya punya dua pertanyaan buat Anda:

1. Kok masih sempet aja jalan-jalan ke mall?

2. Kalau lewat XXI atau Blitz, pernah lihat poster beberapa orang mendaki gunung sambil berpegangan pada tali?

Yak, poster yang kalian lihat itu adalah salah satu film karya anak negeri yang sedang booming saat ini, judulnya ‘5 cm‘.

Kalau menurut anda aksi mereka mendaki gunung itu keren, coba pikirkan perjuangan cameraman-nya. Dia juga mendaki gunung... sambil membawa kamera segede bazooka.

Kalau menurut anda aksi mereka mendaki gunung itu keren, coba pikirkan perjuangan cameraman-nya. Dia juga mendaki gunung… sambil membawa kamera segede bazooka.

Pertama-tama, film ini tidak mengisahkan tentang koas stase obsgyn yang sedang melakukan pemeriksaan VT terhadap pasien kebidanan, dan melaporkan hasilnya kepada dokter residen “pembukaan serviks sudah 5 cm, Dok!” Film ini juga tidak menceritakan tentang tebal textbook kedokteran milik anda dalam satuan centimeter.

Film ini mengisahkan tentang lima orang pemuda yang bersahabat baik dan sepanjang film kita akan dibawa menelusuri kisah masing-masing orang, sampai akhirnya berakhir di Mahameru (puncak Gunung Semeru) seperti yang kita lihat di posternya.

Bagi anda yang kurang cocok dengan film bergenre petualangan, tenang saja. Pasalnya, film ini tidak sepenuhnya bercerita tentang kegiatan naik gunung. Saya sendiri adalah seorang dengan ilmu pendakian gunung yang setara amuba, tetapi bisa menikmati film ini. Jangankan naik gunung, naik ke bangsal lantai 3 lewat tangga saja sudah mengalami dyspnea on exertion.

Kalaupun menceritakan tentang buku ini, judul filmnya pasti "Lebih dari 5 cm"

Kalaupun menceritakan tentang buku ini, judul filmnya pasti “Lebih dari 5 cm”

Seperti biasa, saya akan memberi peringatan buat Anda sekalian. Bagian di bawah ini mengandung banyak sekali spoiler!

Jadi, jangan baca bagian di bawah bila:

1. Anda mengalami shock anafilaksis bila diberi spoiler

2. Anda tidak tahan membaca bahasan yang tangensial dan inkoheren

3. Anda sedang mendaki gunung

Aturan pertama: setiap film wajib ada adegan medisnya!

Seperti sebelumnya, saya akan membahas beberapa adegan medis yang muncul pada film ini. Secara keseluruhan, saya cukup puas dengan adegan medis yang ada dalam film ini. Menurut saya, adegan visual medis dalam film ini memiliki tingkat akurasi yang sudah cukup baik dan layak diacungi jempol!

Berikut beberapa adegan medis yang bisa dibahas:

1. Adegan hipotermia (penurunan suhu tubuh)

Hal pertama yang harus diketahui adalah hipotermia cukup sering terjadi pada pendaki gunung. Sebelum mendaki, tokoh Genta mengingatkan untuk ‘terus bergerak’, karena pergerakan memang perlu untuk mengurangi risiko hipotermia. Sekarang Anda tahu mengapa kalau anda sedang stase di ruang operasi dan hanya bertugas ‘observasi’ saja, anda akan merasa kedinginan dan mengantuk.

Cerita berlanjut. Karena udara dingin, salah satu tokoh tetap harus terkena kondisi ini. Adegan ini digambarkan dramatis dengan keluhan ‘seperti ditusuk-tusuk’ disertai nada bicara yang sudah tidak terlalu jelas. Mereka memutuskan berpelukan secara kelompok. Dari sumber yang saya baca (cari bagianin life threatening situations), berpelukan dalam kelompok memang salah satu cara yang dianjurkan untuk menghangatkan korban hipotermia.

Cara yang paling ideal untuk menangani kasus hipotermia di gunung adalah masuk ke dalam tenda, dan menyusup dalam sleeping bag bersama orang lain yang tidak mengalami hipotermia. Sayangnya, mereka meninggalkan semua barang sebelum mulai mendaki bagian tersulit dari Mahameru. Saya pribadi agak sedikit bersyukur karena adegan ‘berbagi sleeping bag‘ ini tidak terjadi, karena bisa mengingatkan saya pada adegan film Twilight Saga: Eclipse.

Terlambat, saya sudah keburu ingat.

Terlambat, saya sudah keburu ingat.

2. Adegan tinitus akibat trauma kepala

Tokoh yang paling unyu (jujur nih) di film ini mengalami cedera kepala, daerah telinga kiri. Setelah itu, dia digambarkan mengalami telinga berdenging disertai penurunan pendengaran sementara. Keadaan ini paling sesuai dengan kondisi yang disebut trauma-associated tinnitus. Adegan ini digambarkan dengan luar biasa di mana kita dihadapkan pada sudut pandang korban trauma dan mengalami sendiri seperti apa kondisi tinnitus yang dialami.

Satu kata: luar biasa. Eh, itu dua kata ya? Biarin deh.

Sekedar informasi: pada tinnitus akibat trauma pada daerah telinga, sepertiganya akan hilang sendiri dalam waktu rata-rata tiga bulan.

Adegan ini membuat saya sempat benci pada produsernya. Kenapa gadis se-unyu itu harus terbentur kepalanya?!

Adegan ini membuat saya sempat benci pada produsernya. Kenapa gadis se-unyu itu harus terbentur kepalanya?!

3. Adegan CPR (Cardiopulmonary resuscitation)

Ini salah satu adegan paling seru untuk dibahas dalam film ini. Singkat kata, salah seorang tokoh bernama Genta melakukan CPR pada temannya bernama Ian yang tidak sadar diri setelah mengalami trauma kepala. Beberapa hal yang dilakukan oleh Genta cukup akurat, yang diawali dengan mencoba membangunkan korban terlebih dahulu. Setelah itu, dia memeriksa denyut jantung dan nafas Ian.

Hebatnya, dalam adegan ini dia melakukan palpasi pada area arteri karotis di leher! Hal ini cukup mengejutkan saya, karena berkali-kali saya melihat adegan film/sinetron di mana seorang dokter memeriksa denyut nadi pada daerah arteri radialis di pergelangan tangan, menggunakan jempol, dan setelah itu melakukan adegan geleng-geleng dua kali dan menyatakan bahwa pasien sudah meninggal. Untuk itu, mari kita berikan satu point untuk Genta di sini.

Sayangnya, ada sedikit adegan janggal. Sesaat sebelum memeriksa denyut arteri karotis di leher, dia sempat memeriksa denyut jantung dengan cara menempelkan telinganya di daerah dada korban. Tapi, hal ini diperbaiki dengan adanya adegan pemeriksaan aliran nafas dengan look, feel, listen walau tanpa tindakan head tilt atau chin lift. Secara keseluruhan, bolehlah kita berikan satu point tambahan juga di sini.

"Pada korban ada dua masalah. Pertama, tidak terdeteksi nafas spontan. Kedua, kakinya kayaknya hilang."

“Pada korban ada dua masalah. Pertama, tidak terdeteksi nafas spontan. Kedua, kakinya kayaknya hilang.”

Nah, setelah mencoba mencari denyut arteri karotis sebentar, Genta tampaknya tidak berhasil menemukan denyut jantung definitif, sehingga memutuskan melakukan CPR alias kompresi dada. Adegan selama beberapa detik ini bisa kita bahas dalam setidaknya dua aspek.

Pertama, cara melakukan kompresi. Tokoh Genta melakukan kompresi dada dengan teknik yang secara keseluruhan baik. Dia mendorong dengan bahunya (sehingga berat badannya digunakan untuk membantu kompresi dada), bukan hanya dengan gerakan siku saja, apalagi gerakan CPR ala ngulek sambel. Selain itu, walau tampaknya masih terlalu lambat, tapi kecepatan kompresi dada masih berkisar antara 90-100x per menit. Sebagai informasi, teknik CPR yang baik adalah dengan kecepatan 100x per menit dan kedalaman kompresi 5 cm. Satu point untuk Genta.

Kedua, compression:ventilation ratio. Bahasa manusianya, “gue harus pijit-pijit dadanya berapa kali? Terus abis itu gue harus tiup mulutnya berapa kali?” Adegan dalam film ini menerapkan sistem kompresi dada 5 kali dilanjutkan dengan bantuan pernafasan 1 kali. Apakah tepat? Menurut guideline American Heart Association, jumlah kompresi dan bantuan nafas yang dianjurkan adalah 30 kali kompresi dada, diselingi dengan 2 kali bantuan nafas.

Kalau kita lihat sejarah teknik CPR, guideline ini memang sempat mengalami perubahan (dan mungkin akan berubah lagi beberapa tahun mendatang). Teknik yang dilakukan Genta dalam film ini (kompresi:ventilasi sebanyak 5:1) sempat dianjurkan sebelum tahun 2002 untuk CPR pada anak sebelum akhirnya mengalami perubahan lagi menjadi 15:2. Jadi, dalam film ini Genta menggunakan teknik CPR yang sudah tidak dipakai sejak 10 tahun lalu. Genta tidak mendapat poin di bagian ini.

Mengenai apakah upaya CPRnya sukses atau tidak, silahkan nonton sendiri.

Kesimpulan saya untuk bagian CPR ini adalah kurang akurat tapi sudah baik. Mengenai kurangnya ketepatan memang sudah dibahas di atas, tapi menurut saya adegan tersebut sudah baik. Kenapa beginu? Ingat: Genta BUKAN seorang dokter atau paramedis terlatih! Dia seorang ahli ekonomi yang sangat sibuk. Kemungkinan besar dia mempelajari skill Basic Life Support dari pelatihan atau bahkan hanya dari browsing internet atau membaca buku!

Sebagai seorang awam, sangat mungkin dia kesulitan mencari keberadaan denyut nadi karotis, apalagi mengingat guideline resusitasi. Itulah mengapa saya mengatakan adegan ini sudah baik dan sangat masuk akal. Justru kalau tiba-tiba dia bisa melakukan CPR dengan rasio kompresi:ventilasi 30:2 kemudian mengeluarkan defibrillator dan menggunakannya, saya malah bingung. Atas dasar itu, kita berikan seribu point pada aksi CPR Genta.

"Minggir!!! Serahkan pada saya yang sudah ahli, adegan ini sudah sering saya lihat di TV!"

“Minggir!!! Serahkan pada saya yang sudah ahli, adegan ini sudah sering saya lihat di TV!”

Intinya, Genta itu bukan dari kalangan medis. Satu-satunya hal yang bisa dihubungkan antara ‘Genta’ dengan ‘medis’ adalah namanya mirip antibiotik golongan aminoglikosida, Gentamisin.

Final words

Skor medis: 8,5/10

Skor film: 9/10

Secara keseluruhan, film ini memuaskan. Unsur komedi, persahabatan, nasionalis, semua diramu jadi satu. Bagian-bagian terakhir dari film ini sangat berkesan, terutama bagian ketika para pendaki menancapkan Sang Merah Putih di atas puncak Mahameru dan menyatakan kecintaannya pada Tanah Air Indonesia. Sisi aplikatif adegan ini bagi kita yang berada di dunia medis timbul dalam bentuk sebuah pertanyaan, “Apakah Anda cinta Indonesia?”

Seperti yang disinggung dalam adegan film ini, kita mungkin kadang dibuat gemas dengan masyarakat atau dengan pemerintahannya. Tapi, cobalah tanyakan diri Anda lebih dalam lagi, apakah Anda mencintai Tanah Air tempat Anda dilahirkan, negeri yang Anda injak tanahnya dan Anda minum airnya? Jika jawabannya adalah ‘ya’, maka Anda beruntung. Sebagai seorang yang berkarya dalam dunia medis, Anda memiliki banyak sekali peluang untuk berbakti bagi negeri ini.

Bagian lain yang menyentuh adalah prinsip ‘5 cm’ dalam mengejar mimpi-mimpi Anda. Halo, Anda yang di FK, punya mimpi jadi dokter kan? Tonton film ini, aplikasikan prinsip ‘5 cm’ dalam perjuangan Anda.

Sekedar informasi, kucing ini lebih ahli melakukan CPR daripada adegan yang dilakukan dokter dalam sinetron kita

Sekedar informasi, kucing ini lebih ahli melakukan CPR daripada adegan yang dilakukan dokter dalam sinetron kita

Jadikan tahun 2013 sebagai tahun membangun bangsa. Selamat mengejar mimpi.

(ndreamon)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s