Sinopsis Film ‘Habibie dan Ainun’, Sebuah Film Medis Setengah Matang yang Inspiratif

Habibie dan Ainun, sebuah film yang berkisah tentang presiden ketiga Republik Indonesia ini ditayangkan pada tanggal cantik, 20-12-2012. Setelah menonton film ini, saya jadi tertarik untuk sok-sokan membuat sinopsis film ini. Kenapa beginu (campuran begini dan begitu)? Apakah Koas Racun berencana banting setir ke dunia perfilman? Apakah saya habis mengalami cedera kepala sedang? Apakah saya salah makan?

Tidak. Alasannya sederhana saja, film ini mengandung unsur medis yang cukup kental.

 

Bukan drama korea

Bukan drama korea

 

 

SPOILER ALERT! Jangan dibaca kalau:

1. Anda tidak suka spoiler

2. Anda tidak tahan membaca yang terlalu panjang

3. Anda sedang berenang

 

 

Pertama-tama, saya akan mulai dengan mengangkat kekurangan film ini. Pasalnya, sebagai manusia kita lebih mudah mencari kekurangan daripada kelebihan suatu hal. Iya kan? Ngaku deh!

 

1. Kisah penyakit yang kurang dipertajam

Film ini membuka perjalanan penyakit Habibie muda dengan sangat baik. Dalam film ini, diceritakan Habibie muda tiba-tiba terjatuh dan tampak kesakitan di dada, kemudian didiagnosis mengalami TBC tulang. Diagnosis ini diangkat dengan cerdas ketika Habibie menceritakan bahwa dirinya terserang penyakit TBC, dan orang tua Ainun langsung bertanya “kok nggak batuk?” Hal ini menggambarkan stigma yang masih sangat kuat dalam masyarakat bahwa pasien TBC itu HARUS batuk. Kalau batuknya ada darahnya, malah lebih dramatis lagi. Tapi pertanyaan tersebut langsung dijawab oleh Ainun, yang menjelaskan bahwa Habibie terkena TBC tulang. Pada moment ini juga dibongkar bahwa Ainun sudah menjadi seorang dokter umum.

 

Sayangnya, kecerdasan dalam mengangkat TBC tulang ini segera sirna, karena sepanjang film tidak banyak diceritakan mengenai gejala penyakit tersebut. Yang kita bisa lihat hanya adegan Habibie yang minum obat terus. Dalam suatu adegan flashback, digambarkan Habibie kesakitan sambil memegang daerah ulu hati. Ah, akhirnya ada juga gejala sakitnya.

 

Penonton mungkin akan kebingungan di sini, rasa sakit tersebut disebabkan oleh apa? Bagi yang melihatnya, rasa nyeri tersebut lebih mirip seseorang yang mengalami nyeri dada (angina), sakit maag, atau bahkan seperti orang sedang sakit perut. Bila cuplikan bagian tersebut diperlihatkan pada masyarakat banyak, saya cukup yakin banyak yang mengira Habibie muda sedang mengalami mules-mules akut.

 

Mules? Dispepsia? Dismenorea?

Mules? Dispepsia? Dismenorea?

 

 

Begitu pula dengan adegan bertahun-tahun kemudian, ketika Habibie sedang dirawat di Rumah Sakit dan diceritakan baru saja menjalani operasi bypass. Saya sempat berharap hal ini akan bisa dielaborasi lebih lanjut lagi, tapi  selanjutnya yang ada hanyalah adegan Habibie minum obat. Saking banyaknya adegan minum obat, saya sampai sempat mengira Habibie minum obat untuk TBC tulang selama 38 tahun, karena tidak diceritakan obat apa yang dia minum. Padahal, mungkin yang dikisahkan dalam film ini adalah dia minum obat jantung atau obat darah tinggi.

 

Selain Habibie, perjalanan penyakit Ainun juga diceritakan di sini. Ainun diceritakan mengalami keganasan ovarium (indung telur) dan dikisahkan menjalani berkali-kali operasi. Bagi masyarakat, mungkin adegan-adegan tersebut cukup untuk menunjukkan beratnya perjuangan menjadi sosok Ainun, yang menjadi seorang istri, ibu, ibu negara, sekaligus seorang pasien. Tetapi bagi kalangan medis, saya yakin sebagian besar akan langsung bertanya-tanya, “bagaimana ceritanya tiba-tiba Ainun diperiksakan USG kandungan?”

 

Yak, dalam film ini memang tidak diceritakan apa-apa seputar asal muasal diagnosis Ainun. Tidak ada gangguan menstruasi, tidak ada keluhan pembesaran di daerah perut, hanya ada hasil pemeriksaan yang tiba-tiba menyatakan Ainun mengalami penyakit yang berbahaya. Hal ini sama saja dengan Anda menonton Super Chef di televisi, di mana setelah adegan wawancara dengan para koki adegan yang muncul selanjutnya adalah para juri menilai makanan yang sudah tersedia di meja. Dari mana datangnya makanan tersebut? Pesan antar KFC?

 

Padahal, kalau saja ditambahkan beberapa baris kalimat atau beberapa menit adegan, film ini bisa memiliki unsur edukasi kesehatan yang sangat baik untuk masyarakat luas! Bukan tidak mungkin film ini akan menjadi suatu percontohan bagi industri film Indonesia supaya scriptwriter mau mencoba mengambil kondisi selain amnesia dan kecelakaan mobil untuk diangkat dalam sinetron kita.

 

Serius, kalau semua tokoh sinetron Indonesia yang pernah mengalami amnesia atau kecelakaan mobil dikumpulkan, kita bisa membentuk Idol Group yang jumlah anggotanya sepuluh kali lipat jumlah member AKB48.

 

Dan... inilah AKB48

Dan… inilah AKB48

 

 

 

2. Adegan medis janggal

Sampai saat ini, film Indonesia masih suka menampilkan adegan-adegan medis yang tergolong janggal. Saya bahkan curiga Lembaga Sensor Film memiliki divisi ‘wajib-ada-adegan-medis-janggal’. Jadi, kalau ada film yang adegan medisnya benar semua maka film ini akan ditolak oleh LSF. Si produser diminta untuk menambahkan beberapa menit adegan medis janggal, baru film tersebut dinyatakan lulus sensor dan boleh tayang.

 

Mungkin karena hal ini juga, saya jadi kurang menikmati film ini. Adegan saat Ainun berada dalam kondisi kritis yang harusnya bernuansa haru, malah saya buat menjadi sebuah permainan ‘temukan-yang-aneh’. Contohnya, ketika Habibie mengunjungi Ainun di ICU, dengan selang nafas (endotracheal tube) terpasang di mulutnya. Begitu adegan ini mulai, kita akan langsung menyaksikan pemandangan yang amat pedih: seorang suami melihat istrinya yang selama ini tegar, kini terbaring lemas tidak berdaya karena penyakit kanker ovarium yang dialaminya. Untuk bernafas agar bisa bertahan hidup saja, orang yang begitu disayanginya ini harus dibantu dengan selang nafas dan mesin ventilator. Sayangnya, bagi orang yang terbiasa ada di rumah sakit adegan pilu ini akan segera hilang karena Ainun ternyata masih sadar. Compos mentis! Lah, kalau gitu kenapa dipasang selang nafas dan ventilator?

 

Lebih lanjut lagi, adegan puncak yang harusnya membuat seisi ruang pertunjukkan menitikkan air mata ternyata memiliki beberapa kejanggalan lain, antara lain mesin ventilator yang tidak bergerak sama sekali dan monitor ICU yang menunjukkan frekuensi nafas ‘0’. Saya sempat bingung kenapa dua orang yang duduk di sebelah saya tiba-tiba menangis. Apakah kejanggalan medis itu begitu memprihatinkan sampai mereka menangis? Kemudian, saya baru sadar kalau ternyata adegan tersebut memang benar-benar sedih. Sayang sekali saya melewatkannya karena terlalu sibuk memainkan ‘temukan-yang-aneh’

 

Jangan nangis... jangan nangis... oke, jangan keliatan kalau gue nangis...

Jangan nangis… jangan nangis… oke, jangan keliatan kalau gue nangis…

 

 

 

3. Adegan salah dokter

Ini adalah salah satu adegan yang paling fatal, menurut saya. Dikisahkan, Habibie sedang melihat hasil USG daerah perut dengan seorang dokter dan kemudian beliau menanyakan apa arti dari hasil USG tersebut. Jawaban dokter ini sungguh mengejutkan: “Saya kurang tahu, saya kurang menguasainya karena saya sendiri seorang ahli MRI”, kira-kira bernada demikian.

 

Di mana letak kesalahannya? Salahnya adalah ‘salah pilih dokter’! Dalam suatu kasus kandungan (di mana saya cukup yakin dokter spesialis obsgyn yang melakukan pemeriksaan USG tersebut), kenapa keluarga pasien jadi berakhir konsultasi dengan seorang dokter spesialis radiologi yang menekankan ‘saya sendiri seorang ahli MRI’?

 

Hal ini menjadi begitu bermakna karena adegan selanjutnya yang menggambarkan Habibie segera mempersiapkan keberangkatan istrinya dan keluarganya ke Jerman. Tujuannya? Pemeriksaan dan tatalaksana lebih lanjut lagi. Saya mengerti bahwa dikisahkan Habibie sudah lama berada di Jerman dan beliau memiliki nama yang cukup tersohor di sana (dan mungkin kenal baik dengan beberapa dokter), sehingga mungkin saja dia merasa lebih nyaman untuk membawa istrinya ke sana.

 

Sayang sekali, jalan cerita yang saya tangkap adalah “dokter Indonesia bodoh sekali, tidak bisa menjelaskan kondisi Ainun sehingga Habibie memilih untuk membawanya ke luar negeri saja”

 

 

 

 

Kurang adil rasanya kalau kita hanya membahas kekurangan film ini tanpa mengangkat kekuatan dari film ini. Sayangnya, saya kurang ahli dalam memuji, tapi saya akan mencoba sebaik-baiknya.

 

1. Penokohan dalam tokoh ini luar biasa sekali. Tiap tokoh digambarkan memiliki karakter yang khas. Ada Habibie yang rajin dan keras kepala, Ainun yang sangat peduli terhadap suami dan anak-anaknya, sampai tokoh antagonis figuran Hadi yang sangat baik memerankan sosok licik lagi intimidatif. Yang menarik juga, kita dalam melihat perkembangan karakter tokoh ini karena film ini memang menunjukkan rentang waktu yang cukup panjang, sekitar 38 tahun.

 

Mula-mula, kita dapat menyaksikan Habibie muda yang digambarkan begitu cerdas, humoris, serta memiliki kepercayaan diri yang luar biasa walaupun sering dipandang rendah karena berasal dari Indonesia, suatu negara yang belum terkenal saat itu. Seiring bertambahnya usia, Habibie mulai mengurangi sisi humorisnya dan mulai menunjukkan sisi bijaksananya.

 

Dalam hitungan menit, kita akan dibawa menyaksikan Habibie dewasa sebagai sosok pria bijaksana yang cinta negara, tapi juga gomba- eh, romantis. Dinamika karakter ini memuncak ketika beliau menghadapi situasi Ainun yang sakit berat, di mana kita melihat sosok Habibie yang pecah dan rapuh. Secara ajaib, sisi rasional dan bijaksananya seolah hilang.

 

Bisa diblang, penokohan adalah salah satu unsur paling menjual dari film ini. Saya pun harus mengakui bahwa Reza Rahadian mampu memerankan sosok Habibie dengan sangat luar biasa. Saya punya firasat gaya berbicara seperti Habibie akan ngetrend dalam beberapa tahun ke depan. Setidaknya, logat Eropanya jauh lebih keren daripada ‘ciyus miapah’ yang lebih mirip ucapan seorang remaja yang gagal tumbuh kembangnya.

 

Kalau Anda pengguna 'ciyus miapah', saya akan langsung berasumsi Anda nampak seperti ini

Kalau Anda pengguna ‘ciyus miapah’, saya akan langsung berasumsi Anda nampak seperti ini

 

 

2. Selain penokohan, latar tempat dan latar waktu dalam film ini juga baik. Lokasi yang berpindah-pindah antara Jerman dan Indonesia membuat kita seolah terbawa mengunjungi tempat tersebut. Latar tempat juga didukung latar waktu yang luar biasa, pasalnya film ini mengambil masa mulai dari tahun 1950-1960an, dan kita diajak menjadi saksi mata seperti apa kondisi negara kita lima puluh tahun silam. Padahal saya juga tidak tahu apakah benar lima puluh tahun lalu kondisi Bandung seperti itu.

 

3. Saya juga menikmati jalan cerita film ini. Film ini merupakan gabungan unsur humor, romantis, keluarga, nasionalisme, politik, perjuangan, dan tentunya kesehatan. Semua unsur mendapat porsi yang sama rata dan ditampilkan dengan cukup baik, kecuali mungkin untuk unsur medis yang sudah dijabarkan di atas. Film ini mampu membuat seisi ruang tertawa lepas selama sepertiga awal film, terdiam selama sepertiga tengah, dan mata berkaca-kaca pada sepertiga akhir.

 

Sebagai tambahan, adegan yang paling berkesan buat saya adalah ketika Habibie memutuskan pulang berjalan kaki dari stasiun bus karena tidak punya uang. Rasanya sangat pilu melihat seorang sosok jenius berjalan di tengah hujan salju dengan sepatu butut yang berlubang. Sesampainya di rumah, istrinya melihat telapak kaki Habibie, pahlawannya, yang terluka akibat perjalanan tersebut. Efek tamparan yang timbul luar biasa, seolah-olah seperti saya habis ditampar orang yang duduk di depan karena kaki saya terus menendang-nendang kursinya dari belakang.

 

Dan film ini menampilkan N250, pesawat rancangan BJ Habibie. Selagi anda sibuk merakit Gundam, beliau merakit pesawat.

Dan film ini menampilkan N250, pesawat rancangan BJ Habibie. Selagi anda sibuk merakit Gundam, beliau merakit pesawat.

 

 

Kata-kata akhir:

Sebuah film luar biasa yang wajib ditonton. Sebagai seorang penonton, saya memberi film ini nilai 8,5 dari 10. Kalau di kampus saya dulu, itu sudah dapat nilai A. Sayangnya, untuk unsur medisnya saya hanya memberi nilai 5 dari 10. Artinya, kalau film ini koas dan saya jadi pengujinya, film ini harus remedial, harus diperbaiki adegan-adegan medisnya.

 

Saya melebih-lebihkan adegan medis dalam film ini bukan karena saya adalah seorang yang berasal dari bidang medis. Film ini sendiri dari awal sudah memutuskan akan mengandung unsur medis yang cukup kental. Secara ringkas, film ini diawali dengan Habibie yang sakit, dilanjutkan dengan Habibie, Ainun, dan anaknya yang sakit bergantian, dan diakhiri dengan Ainun yang kehilangan nyawanya akibat sakit keras.

 

Untuk sebuah film yang berani membawa unsur medis yang sedemikian rumitnya, ada baiknya produser Dhamoo Punjabi dan Manoj Punjabi mematangkan konsep medis tersebut semaksimal mungkin. Kalau saja adegan-adegan medis dalam film ini dikonsultasikan dengan seorang dokter, maka saya yakin film Habibie dan Ainun akan menjadi film yang nyaris sempurna bagi semua kalangan.

 

(ndreamon)

 

Sosok inspiratif.

Sosok inspiratif.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s