Apa? Kuesioner porno beredar di SMP? KURANG AJYAAR!!!

Belakangan ini berita di dunia nyata dan dunia maya lagi heboh, masa sih siswa smp harus menyatakan ukuran alat kelaminnya dan ukuran payudaranya?.

Kita semua kan sudah tahu kalau urusan selangkangan dan wilayah dada itu masih topik tabu untuk diangkat, apalagi untuk sasaran survey yang masih di bawah umur. Hal ini tidak bisa dibiarkan!

Tentu saja pertanyaan pertama orang-orang yang membacanya adalah “SAKIT JIWAAA LU YA? Buat apa ada kuesioner nanya-nanya gituan? Ihh!!!” Dalam saat bersamaan, kita akan segera membayangkan kalau tim pembuat kuesioner tersebut penuh dengan orang seperti ini

HAHAHA, KOLEKSI GUE NAMBAH LAGI

 

Sebagai seorang yang terlibat dalam dunia ilmiah, kami selalu diajarkan untuk harus kritis menghadapi suatu berita.

Jadi, kami mencoba untuk mencari-cari informasi lebih lanjut lagi sebelum berkoar-koar tanpa dasar. Sebagian dari Anda yang bekerja di dunia medis mungkin terkejut melihat berita berikut, tapi setelah melihat kuesionernya bisa jadi Anda tidak terlalu terkejut.

Inilah kuesioner yang membuat heboh tersebut:

Oke, sejauh ini terlihat normal

Siswa SMP yang bisa mengerti semua istilah ini pasti memiliki kecerdasan yang luar biasa.

 

Pembuat kuesioner ini cukup yakin bahwa siswa-siswi SMP yang mengisinya akan jujur pada poin “Apakah kamu suka merokok? Apakah kamu suka minum-minuman beralkohol?”. Tentu saja mereka akan jujur karena identitas mereka terjaga kerahasi-

Eh, tunggu dulu.

Itu namanya dan sekolahnya ditulis jelas-jelas ya di halaman pertama.

Okay, lanjut. Jadi tampaknya ini adalah bagian yang bikin semua orang heboh:

Ketika sampai di halaman ini, 67% siswa mengalami serangan panik. Sisanya cekikikan sendiri.

 

Buat mahasiswa kedokteran yang pernah mempelajari Ilmu Kesehatan Anak, pasti merasa pernah lihat ‘halaman mesum’ di atas. Kenapa? Karena kuesioner itu adalah kuesioner standar internasional yang dikenal sebagai ‘TANNER SCALE’. Skala ini dibuat dokter anak bernama James Tanner yang tujuannya untuk menilai perkembangan fisik dan tanda seks sekunder pada anak dan remaja yang sedang puber. Skala ini dibuat berdasarkan penelitian yang dipublikasikan pada tahun 1969 untuk anak perempuan dan juga penelitian tahun 1970 untuk anak laki-laki.

Pictured above: science!

 

Terus kalau gitu, kenapa bermasalah?

Masalah utama di sini adalah proses komunikasi yang hilang.

Para murid atau orang tuanya tidak mendapat informasi mengenai hal ini (hanya di halaman awal dikatakan untuk informasi) dan sekonyong-konyong langsung diminta untuk memberikan informasi sensitif seputar selangkangan dan dada.

Siapapun pasti akan terkejut dan keberatan dengan hal ini. Kalau misalnya Anda punya anak dan tiba-tiba ada pihak yang meminta anak Anda untuk memvisualisasikan kelaminnya tanpa penjelasan apa-apa, saya yakin Anda akan mengamuk.

“NGAPAIN LU NANYAIN UKURAN ALAT KELAMIN ANAK GUE?!”

 

Apakah rakyat kita merespon berlebihan akan hal ini?

Tampaknya tidak, karena memang kontroversi serupa sudah pernah mencuat.

Pada tautan di atas, Anda bisa melihat orang-orang jenius bertengkar bukan dengan otot dan emosi, tapi dengan surat dan data. Intinya, penggunaan Tanner Scale tersebut dipertanyakan, karena selain dikhawatirkan bakal konflik dengan isu pornografi anak, tampaknya usia kronologis seorang anak tidak bisa ditentukan dengan Tanner Scale ini. Dua anak berusia sama dari ras berbeda akan menunjukkan gambaran skala Tanner yang berbeda pula.

Nah, siapa coba orang yang nekat menyatakan ketidakakuratan Tanner Scale yang telah melewati penelitian panjang tersebut?

Tentu saja Professor Tanner sendiri.

Untuk menutup ocehan ini, mari kita buat rangkuman:

1. ‘Kuesioner bergambar alat kelamin dan ukuran payudara’ itu mengadaptasi ‘Tanner Scale’ yang tujuannya memang untuk menilai perkembangan fisik dan tanda seks sekunder

2. Kuesioner ini TIDAK dimaksudkan untuk tujuan pornografi

3. Masalah utamanya kemungkinan adalah murid dan orang tua murid tidak mendapat penjelasan tentang hal ini ataupun untuk apa kuesioner tersebut, sehingga banyak yang keberatan.

Semoga melalui notes singkat ini, kita bisa makin kritis dalam menanggapi sesuatu. Semoga lewat notes ini juga masyarakat bisa melihat hal ini dari sudut pandang tenaga medis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s