Internsip Lagi, Internsip Lagi

Kalau kami membahas tentang internsip, biasanya nggak akan berakhir bahagia. Terakhir kami membahas tentang internsip di akun twitter kami @KoasRacun beberapa bulan silam dengan tema ‘Berbagi pengalaman internsip’, kami langsung dituduh mendukung internsip secara buta, menyebarkan kisah ‘Pemberi Harapan Palsu’ bagi para calon internsip, dituduh antek-antek depkes, dibayar depkes untuk mempengaruhi para dokter muda yang akan berangkat internsip supaya tidak protes, bahkan ada yang menuliskan

“potong aja lehernya, gantung di depan pintu IGD.” (actual quote)

Singkat kata, setelah kejadian itu kami jadi malas untuk membahas internsip lagi. Bahkan, kalau disuruh memilih antara membahas internsip lagi atau menonton film Tutur Tinular Indosi*r sampai tamat, kami memilih untuk menonton Tutur Tinular. Dua kali.

 

Dan kami sadar bahwa ada Batman dan Joker abal-abal di Tutur Tinular Indosi*r

Dan kami sadar bahwa ada Batman dan Joker abal-abal di Tutur Tinular Indosi*r

 

Ya, seperti halnya bahasan tentang hal lainnya, akan selalu ada pihak pro dan kontra. Kalau kami berdiri di pihak kontra, yang di pihak pro akan teriak “OH GITU KOAS RACUN NGGAK SETUJU INTERNSIP? PENGENNYA DI KOTA BESAR AJA YA? ANAK MANJA!!!”

Kalau kami berdiri di pihak pro, pasti akan dimaki-maki pihak kontra dengan tuduhan

“TIDAK EMPATI TERHADAP REKAN SEJAWAT! SITU ENAK ANAK ORANG KAYA, DIGAJI 1,2 JUTA SEBULAN NGGAK MASALAH! NGGAK SEMUA ORANG ANAK TAJIR KAYA ELO!” (actual quote)

 

Dengan demikian, kali ini kami TIDAK AKAN membahas tentang internsip. Kami cuma akan mencoba membagikan pandangan kami secara objektif. Tenang saja, jangan khawatir anda akan terpengaruh. Tulisan ini tidak berbobot, tidak seperti tulisan-tulisan lain yang sudah banyak beredar tentang internsip. Kami bukan tim yang ahli menuliskan kritik sosial. Kami hanya ahli mentertawakan diri sendiri.

Internsip itu pada dasarnya baik, tujuannya untuk upaya pemerataan dokter ke daerah. Dengan demikian, diharapkan masyarakat di daerah juga bisa terpapar dengan dokter-dokter muda yang mulus dan kece. Dokter-dokter ini juga bisa menjalani program pemahiran dengan menangani pasien secara langsung.

 

Ketika mendengar ada "tenaga kesehatan muda akan datang ke desa kita", para penduduk mungkin berpikir seperti ini yang datang

Ketika mendengar ada “tenaga kesehatan muda akan datang ke desa kita”, para penduduk mungkin berpikir seperti ini yang datang

 

Masalahnya adalah pada saat pelaksanaannya. Hanya sebagian dari dokter muda ini yang beruntung mendapatkan pengalaman tersebut. Sebagian lain yang kurang beruntung mengeluhkan mereka tidak mendapat hak untuk menjalani kompetensi mereka. Yang ada malah mereka hanya menjadi ‘penulis’ instruksi dokter.

Internsip itu memberikan pengalaman bagi para dokter ini. Kalau tidak diwajibkan, pasti ada saja yang tidak mau terjun ke daerah. Padahal di daerah ini pengalaman, kemandirian, dan kemampuan komunikasi bisa terasah dengan baik.

Masalahnya, pengalaman yang ada tidak selalu pengalaman baik. Beberapa dokter internsip mengeluhkan pengalaman buruk karena mengalami sakit dan tidak ada jaminan kesehatan. Belum lagi pengalaman buruk menunggu biaya bantuan hidup yang turun setiap beberapa bulan sekali. (Sebagai informasi, beberapa dokter PTT di daerah-daerah juga mengalami yang namanya gaji turun tiap tiga bulan lho)

 

 

Sekali lagi, kami mencoba objektif di sini. Internsip masih perlu banyak perbaikan. Seperti sudah dituliskan di atas, ada dokter yang beruntung bisa mempraktikkan kompetensinya, ada yang hanya jadi tukang tulis. Ada yang mendapat hak cuti yang sesuai, ada yang ‘dipenjara’ di kota tersebut. Masalahnya bukan pada internsipnya, tapi pada aturannya.

Kami coba menganalogikan dengan ospek. Acara ospek di sekolah atau universitas pada dasarnya baik, dibuat sebagai sebuah proses orientasi. Masalahnya adalah pada saat pelaksaannya, kita tidak bisa menutup mata bahwa ospek ini dianggap sebagai periode yang asoy buat menindas. Itulah sebabnya kenapa ada muncul berita ‘mahasiswa meninggal setelah ospek’ sedangkan ada juga kejadian ‘senior-junior jadi lebih akrab setelah ospek’.

Jadi, yap, internsip masih memiliki banyak kekurangan dan harus diperbaiki. Tapi bukan berarti  harus dihilangkan. Toh, internsip ini program yang tergolong muda, baru mulai sekitar 3-4 tahun. Ujian Nasional SD/SMP yang sudah berlangsung puluhan tahun saja masih direvisi terus menerus lho.

Akhir kata, mari kita coba menambahkan satu konsep berpikir berikut dalam otak kita: bila ada sesuatu yang rusak, cobalah untuk memperbaikinya dahulu, bukan membuangnya.

 

Respect.

Respect.

 

Lagipula, keinginan kita semua sama. Kita ingin masyarakan mendapat pengobatan yang layak, dan kita juga ingin dokter Indonesia mendapat penghargaan yang pantas.

Bagi yang setuju, tidak setuju, marah, gemes, ingin protes, atau ingin mengirimkan ancaman pembunuhan lagi kepada kami, silakan tulis di komentar bawah ini. Tapi jangan lupa, ini hanya tulisan (tidak) lucu yang tidak berbobot, Anda hanya akan membuang-buang waktu kalau Anda berdebat atau berdiskusi di bagian komentar tulisan ini.

Tapi, jangan lupa satu hal. Kita ini dokter, dalam sumpah dokter kita semua ini saudara. Berdiskusilah layaknya dokter dan anggaplah masing-masing saudara.

 

Salam sehat gaul,

(ndreamon)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s